Politik Baper si Sandi Anak Mami - Jaringan Nasional

Monday, February 18, 2019

Politik Baper si Sandi Anak Mami

Dari ibu kita sebenarnya belajar bagaimana mengasihi dengan tanpa pamrih. Dan seorang anak tentu akan bisa melihat bagaimana ketulusannya, bagaimana kesetiaannya di dalam merawat dan terus menjaga keluarganya, tetap kokoh dan berdiri tegak. Walaupun goncangan datang silih berganti, seorang ibu tidak akan pernah gentar.

Tapi tentang rasa aman di dalam sebuah keluarga itu, hanya bisa dipastikan didapatkan dari figur seorang ayah atau papanya di rumah. Sebab ayah yang bisa mengayomi dan melindungi keluarganya dari semua hal-hal yang jahat yang mau mampir ke rumahnya.

Kemudian ketika kita melihat perlakuan yang protektif sekali kepada seorang anak, apakah mungkin si anak bisa berkembang dengan maksimal nantinya. Sebab dimana-mana ketika ada ibu yang selalu mengatur anaknya, tidak boleh ini dan tidak boleh itu, apakah mungkin anaknya bisa mandiri ?

Seperti yang dilansir oleh merdeka.com (11/2/2019), Ibu Sandiaga Uno, bernama asli Rachmini Rachman Uno itu mengaku sangat sedih sekali terhadap pernyataan-pernyataan yang menyerang anaknya itu. Perempuan berusia 78 tahun tersebut sangat ingin menjelaskan kepada pihak yang telah memfitnah anaknya bahwa putranya tak pernah berpura-pura saat kampanye di lapangan. Menurutnya, sosok Sandiaga Uno telah dibesarkan dengan nilai-nilai jauh dari dari kebohongan dan kebencian.

Kemudian beliau juga mengungkapkan kejengkelannya sebagai orangtua yang melihat keadaan yang terus menerus dipertentangkan yang sebetulnya itu adalah hal yang tidak benar. Bahkan berani menantang kepada pihak-pihak yang menjelekkan anaknya itu,supaya berhadapan langsung dengan dia.

“Jadi sekarang kalau ada orang yang mengatakan itu Sandiwara Uno dia harus minta maaf kepada ibunya yang melahirkan dan mendidik Mas sandi dengan segenap tenaga untuk menjadi orang yang baik. Siapa yang mau berhadapan dengan saya sebagai ibunya?” kata Mien Uno.

Tapi ketika kita lihat lagi pembelaan yang sedemikian beraninya dari seorang Ibu, wajarkah untuk ditampilkan ke muka umum?

Memang satu hal yang paling membuat seorang anak itu bisa terluka, ketika melihat ibunya disakiti oleh papanya sendiri. Kemarahan itu bisa terus disimpan jika tidak ada pemberesan dari si papa kepada istrinya maupun kepada anaknya.

Dan mungkin ini-lah yang dilihat oleh Bapak Sandiaga Uno. Yang akhirnya membela perkataan mamanya bahwa ia mengakui, bahwa beliau adalah anak mami. Supaya ibunya tidak berpikiran macam-macam dan tetap sehat.

Tentu menjadi pejabat dan berada diposisi tertinggi, badai yang akan diterimanya jauh lebih besar ketimbang ketika hanya menjadi orang-orang biasa saja. Seharusnya Sandiaga bisa tahu dan mengerti tentang hal ini.

Hal itu juga sama seperti pohon yang tinggi, jauh lebih besar angin yang menimpa bagian pohon yang paling atas ketimbang angin yang menimpa bagian pohon yang paling bawah.

Maka ketika ada anak yang justru mengaku anak mami, apakah mungkin bisa dengan kuat memimpin bangsa ini ke depannya. Seperti yang dilansir oleh merdeka.com (12/2/2019) Ibu Sandiaga Uno, atau yang lebih dikenal dengan Mien Uno, sangat sedih sekali dan sangat keberatan sekali tentang istilah yang mempjokkan anaknya itu. Dan bahkan menantang orang yang berani sebutkan itu supaya meminta maaf kepadanya.

Kemudian Sandiaga-pun bereaksi dan menopang pernyataan ibunya itu. Dan tidak masalah, kalau orang-orang menyebutnya anak mami. Meskipun dengan penjelasan, yah tidak mungkin-lah saya anak tante saya, atau anak orang lain.

Tapi meskipun demikian pernyataan beliau, tentu ada keraguan kita sebagai orang yang mengerti sekali bagaimana perkembangan seorang anak yang sudah dewasa,jika sejak kecilnya selalu diproteksi dengan sangat oleh sang ibunda.

Bisakah si anak tersebut menjadi anak yang tangguh dan bahkan berani menghadapi realitas bahwa hidup ini sangat keras dan butuh perjuangan untuk bisa menaklukkannya? Apakah tidak muncul kecurigaan, bahwa segala putusan yang mungkin diambilnya di dalam keluarganya kelak, selalu ibunya yang menjadi faktor penentu pengambilan keputusan dan bukannya dia?

Jadi jika orang seperti ini yang memimpin, bukankah akan timbul kecurigaan seperti itu? Yang bukan malah mendatangkan simpati, malah justru memperlemah tampilan kita sebagai orang yang punya karakter kuat dan bukannya lemah?

Apalagi jika memimpin bangsa sebesar Indonesia ini, yang diisi oleh jutaan pasang keluarga, bisahkah akan sukses memimpin bangsa ini ke depannya?

No comments:

Post a Comment