HEADLINE: Benarkah Perang Dagang Segera Berakhir, Apa Dampaknya ke RI? - Jaringan Nasional

Monday, July 1, 2019

HEADLINE: Benarkah Perang Dagang Segera Berakhir, Apa Dampaknya ke RI?

Pengamat menilai meredanya perang dagang menjadi peluang bagi Indonesia. Meski masih ada hal yang patut diperhatikan.

“Ini sinyal positif dari G20 dengan renegosiasi terkait kebijakan tarif. Artinya besar kemungkinan perang dagang bisa sedikit mereda. Setidaknya tidak ada kenaikan tarif bea masuk yang baru,” ujar Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira.

Sentimen tersebut dapat menjadi kesempatan bagi eksportir Indonesia untuk meyakinkan calon pembeli di tujuan ekspor Amerika Serikat (AS) dan China untuk menjalankan kontrak pembelian jangka panjang.

“Kemarin sempat tertunda karena wait and see pertemuan Trump dengan Xi Jinping, sekarang saatnya genjot ekspor lagi,” kata dia.

Bila ekspor Indonesia mulai membaik dikatakan berdampak berkurangnya defisit neraca dagang. Hal lain efek positif renegosiasi dagang tersebut dapat mendorong perbaikan pertumbuhan ekonomi, stabilitas kurs rupiah, dan pendapatan masyarakat di sektor komoditas.

Meski demikian, Bhima menegaskan kalau renegosiasi dagang tersebut bukan berarti perang dagang selesai. Masih ada ketidakpastian di global. “Cuma negosiasi baru. Yang penting tidak ada pemberlakuan tarif baru,” tutur dia.

Salah satu yang dikhawatirkan adalah defisit perdagangan](3973213 “”) Indonesia yang bisa semakin melebar hingga USD 10 miliar.

Perang dagang AS-China masih berisiko mengalami eksalasi di tengah upaya Presiden Donald Trump memainkan strategi politiknya jelang Pilpres AS 2020. 

Posisi China yang masih bertahan juga disebutnya menyulitkan Negeri Paman Sam untuk menghasilkan kesepakatan yang win-win solution. 

“Dampaknya kinerja ekspor Indonesia masih akan tertekan sampai akhir tahun. Defisit perdagangan diperkirakan menembus USD 10 miliar. Lebih tinggi dari tahun 2018 lalu di USD 8,5 miliar,” ungkap dia kepada JaringaNasional, Senin (1/7/2019).

Dia pun menuturkan, pokok masalah utama saat ini adalah bea tarif masuk. Dalam hal ini, Trump menyatakan masih ada potensi AS untuk tetap melanjutkan kenaikan bea masuk dan pajak yang jumlahnya mencapai USD 350 miliar. 

“Selama tarif bea masuk belum diturunkan signifikan, permintaan bahan baku dan komoditas dari Indonesia untuk manufaktur AS dan China akan menurun,” tegas dia.

Menurut dia, kunci bertahan di era perang dagang adalah membuat insentif pajak dan non-pajak bagi industri yang mau lakukan relokasi atau peningkatan basis produksi di indonesia. 

“Contohnya ekspor tekstil dan pakaian jadi justru meningkat ordernya. Pemerintah tinggal melakukan pemetaan industri apa yang potensial dan jemput bola tawarkan insentif. Jangan terlambat karena Vietnam sudah gencar jemput bola ke perusahaan yang berbasis di China,” imbuhnya.

Adapun sektor yang terkena imbas negatif misalnya komoditas sawit, karet, batu bara. Komoditas ini yang perlu didorong serapan domestiknya.

Sugeng, Deputi Gubernur Bank Indonesia mengakui jika Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China harus diwaspadai karena dampaknya terhadap ekonomi dunia termasuk Indonesia.

“Di antara efeknya adalah turunnya volume perdagangan dunia secara umum,” tutur 

Ia menuturkan, salah satu dibuktikan dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi di pusat-pusat ekonomi antara lain kawasan Eropa, Asia, Amerika Serikat dan China.

Sedangkan salah satu imbasnya lagi bagi Indonesia, banyak harga komoditas global yang menjadi andalan Indonesia seperti minyak sawit (CPO), batu bara, tembaga dan lainnya yang harganya turun, hanya harga karet dan timah saja yang naik. 

Jika perang dagang yang berkelanjutan ini, lanjut Sugeng, bakal menimbulkan ketidakpastian ekonomi yang merugikan semua pihak. Salah satu langkah antisipasi yang diambil diantaranya memperkuat industri manufaktur di dalam negeri.

Meski demikian perang dagang itu, tidak selalu berdampak negatif. Akan tetapi, juga ada dampak positif yang bisa direbut. 

“Namun perang dagang juga berarti membuka kesempatan bagi Indonesia. Ada komoditas yang biasanya diekspor oleh China ke Amerika Serikat yang kini dilarang oleh Amerika Serikat, dan sebaliknya. Nah kesempatan seperti ini yang harus kita rebut,”tutur dia.

Peluang lain disebutkan berkaitan dengan potensi dana yang masuk ke Indonesia. Ini karena investor tidak nyaman dengan kondisi perang dagang baik di dalam negeri Amerika Serikat maupun China.

 

 


Artikel yang berjudul “HEADLINE: Benarkah Perang Dagang Segera Berakhir, Apa Dampaknya ke RI?” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment